REGGEA INDONESIAN
::
Perjalanan Reggae di Indonesia ::
Musik Reggae sebetulnya sudah lama digaungkan
di Indonesia sekitar tahun 1980-an, dengan munculnya band
Reggae Abreso dalam acara Reggae Night di Taman Impian Jaya Ancol.
Sekitar tahun 1985 band yang seluruhnya personil pemuda asal
Papua ini pernah performing di Christmas Island selama tiga bulan yang
diprakarsai oleh Yorries Raweyai. Pada tahun 1984 Abreso pernah rekaman
lagu-lagu Reggae.
Selain itu, masih di era tahun 1980-an ada lagu “Dansa
Reggae” yang dinyanyikan oleh Nola Tilaar iringan musik oleh Willie Teuguh.
Lagu ciptaan Melky Goeslaw itu adalah salah satu lagu Reggae
yang mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang kultural bisa ramai-ramai
menikmati reggae. Dengar liriknya: "Orang Jawa bilang, ’monggo dansa
reggae’!"
(Photo :
istimewa)
REGGAE tak harus RASTA :D
Di
Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal, reggae dan
rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. “Reggae adalah nama genre musik,
sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup,
way of life,” ujar Ras Muhamad (23), pemusik reggae yang sudah 12 tahun menekuni
dunia reggae di New York dan penganut ajaran filosofi rasta.
Repotnya, di balik ingar-bingar dan kegembiraan
yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik tersebut.
Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu sendiri. “Di sini,
penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah disebut rastafarian,
diidentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan,”
ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.
Padahal, filosofi rasta
sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib, dan memiliki
prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut rasta yang sesungguhnya menolak
minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok. “Para anggota The
Wailers (band asli Bob Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran
rastafari,” papar Ras.
Ras
mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae adalah penganut rasta, dan
sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus menyenangi lagu reggae. Reggae
diidentikkan dengan rasta karena Bob Marley—pembawa genre musik tersebut ke
dunia—adalah seorang penganut rasta.
Ras menambahkan, salah satu bukti bahwa komunitas
reggae di Indonesia sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak
adanya pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. “Misalnya waktu
saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka tidak tahu.
Padahal itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,” ungkap pemuda yang
menggelung rambut panjangnya dalam sorban ini.
Pemusik Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia
menggunakan embel-embel nama Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut rasta.
Tony mencoba memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi
satu hakikat filosofi, yakni cinta damai. “Yang saya ikuti cuma cinta damai
itu,” tutur Tony yang tidak mau menyentuh ganja itu.
Namun, meski tidak memahami dan menjalankan seluruh
filosofi rastafari, para penggemar dan pelaku reggae di Indonesia mengaku
mendapatkan sesuatu di balik musik yang mereka cintai itu. Biasanya, dimulai
dari menyenangi musik reggae (dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu
kemudian mulai tertarik mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di
baliknya.
Seperti diakui Hendry
Moses Billy, gitaris grup Papa Rasta asal Yogya, yang mengaku musik reggae
semakin menguatkan kebenciannya terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan
wewenang. Setiap ditilang polisi, ia lebih memilih berdebat daripada “berdamai”.
“Masalahnya bukan pada uang, tetapi praktik seperti itu tidak adil,” tandas
Moses yang mengaku sering dibuntuti orang tak dikenal saat beli rokok tengah
malam karena dikira mau beli ganja.
Sementara Steven mengaku dirinya menjadi lebih
bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae,
terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Steven, mengajarkan perdamaian,
keadilan, dan antikekerasan. “Jadi kami memberontak terhadap ketidakadilan,
tetapi tidak antikemapanan. Kalau reggae tumbuh, maka di Indonesia tidak akan
ada perang. Indonesia akan tersenyum dengan reggae,” ujar Steven mantap.
Sila dan Joni dari Bali
menegaskan, seorang rasta sejati tidak harus identik dengan penampilan ala Bob
Marley. “Rasta sejati itu ada di dalam hati,” tandas Sila sambil mengepalkan
tangan kanan untuk menepuk dadanya.
facebook : reza rastaman
tweet : @RZaguero
email : reza.mayat@yahoo.com
::
Perjalanan Reggae di Indonesia ::
Musik Reggae sebetulnya sudah lama digaungkan
di Indonesia sekitar tahun 1980-an, dengan munculnya band
Reggae Abreso dalam acara Reggae Night di Taman Impian Jaya Ancol.
Sekitar tahun 1985 band yang seluruhnya personil pemuda asal
Papua ini pernah performing di Christmas Island selama tiga bulan yang
diprakarsai oleh Yorries Raweyai. Pada tahun 1984 Abreso pernah rekaman
lagu-lagu Reggae.
Selain itu, masih di era tahun 1980-an ada lagu “Dansa
Reggae” yang dinyanyikan oleh Nola Tilaar iringan musik oleh Willie Teuguh.
Lagu ciptaan Melky Goeslaw itu adalah salah satu lagu Reggae
yang mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang kultural bisa ramai-ramai
menikmati reggae. Dengar liriknya: "Orang Jawa bilang, ’monggo dansa
reggae’!"
REGGAE tak harus RASTA :D
Di Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal, reggae dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. “Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life,” ujar Ras Muhamad (23), pemusik reggae yang sudah 12 tahun menekuni dunia reggae di New York dan penganut ajaran filosofi rasta.
Repotnya, di balik ingar-bingar dan kegembiraan yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik tersebut. Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu sendiri. “Di sini, penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah disebut rastafarian, diidentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan,” ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.
Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok. “Para anggota The Wailers (band asli Bob Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari,” papar Ras.
Ras mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae adalah penganut rasta, dan sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus menyenangi lagu reggae. Reggae diidentikkan dengan rasta karena Bob Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia—adalah seorang penganut rasta.
Ras menambahkan, salah satu bukti bahwa komunitas reggae di Indonesia sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak adanya pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. “Misalnya waktu saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka tidak tahu. Padahal itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,” ungkap pemuda yang menggelung rambut panjangnya dalam sorban ini.
Pemusik Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut rasta. Tony mencoba memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu hakikat filosofi, yakni cinta damai. “Yang saya ikuti cuma cinta damai itu,” tutur Tony yang tidak mau menyentuh ganja itu.
Namun, meski tidak memahami dan menjalankan seluruh filosofi rastafari, para penggemar dan pelaku reggae di Indonesia mengaku mendapatkan sesuatu di balik musik yang mereka cintai itu. Biasanya, dimulai dari menyenangi musik reggae (dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.
Seperti diakui Hendry Moses Billy, gitaris grup Papa Rasta asal Yogya, yang mengaku musik reggae semakin menguatkan kebenciannya terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang. Setiap ditilang polisi, ia lebih memilih berdebat daripada “berdamai”. “Masalahnya bukan pada uang, tetapi praktik seperti itu tidak adil,” tandas Moses yang mengaku sering dibuntuti orang tak dikenal saat beli rokok tengah malam karena dikira mau beli ganja.
Sementara Steven mengaku dirinya menjadi lebih bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae, terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Steven, mengajarkan perdamaian, keadilan, dan antikekerasan. “Jadi kami memberontak terhadap ketidakadilan, tetapi tidak antikemapanan. Kalau reggae tumbuh, maka di Indonesia tidak akan ada perang. Indonesia akan tersenyum dengan reggae,” ujar Steven mantap.
Sila dan Joni dari Bali menegaskan, seorang rasta sejati tidak harus identik dengan penampilan ala Bob Marley. “Rasta sejati itu ada di dalam hati,” tandas Sila sambil mengepalkan tangan kanan untuk menepuk dadanya.
facebook : reza rastaman
tweet : @RZaguero
email : reza.mayat@yahoo.com tweet : @RZaguero

Tidak ada komentar:
Posting Komentar